Minggu, 23 Januari 2011

Tim pencari

Tim pencari dari Polres Pulau Seribu, Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Metro Jaya dan Basarnas, hingga kini masih berupaya mencari lima korban kapal nelayan KM Sumber Rezeki yang tenggelam di perairan Lampu Putih, Lampung.

Kapolres Pulau Seribu, AKBP Hero Henrianto Bachtiar mengatakan, kapal nelayan milik warga Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, KM Sumber Rezeki, tenggelam pada Selasa malam 18 Januari 2011 sekitar pukul 23.00 WIB di sekitar perairan lampu Putih, Lampung.

"Kapal nelayan itu sedang lego jangkar di tengah laut. Lalu hancur dan tenggelam setelah ditabrak kapal kargo yang belum diketahui identitasnya," kata Hero, Minggu 23 Januari 2011.

Kapal tersebut berisi delapan awak buah kapal (ABK), namun yang berhasil menyelamatkan diri hanya tiga orang, dan lima lainnya dinyatakan hilang.

Tiga ABK yang selamat, yaitu Madin (35), Anen (55), dan Kosim (20), ditolong oleh kapal tongkang batu bara yang sedang berlayar dari Kalimantan ke Cilegon, Banten. Sementara itu, lima ABK lainnya, Dian (20), Murta (25), Jaya (31), Agus (19), dan Jaenal (34), hingga saat ini belum ditemukan.

Korban yang selamat, menurut Hero, dijemput di Pelabuhan Cilegon dan saat ini sedang dalam penanganan medis di Puskesmas Pulau Kelapa, karena terluka dan mengalami syok.

"Mereka berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri. Selama empat hari mereka bertahan hidup, dengan berpegangan kayu hancuran kapal yang mengapung di tengah laut," tutur Hero.

Tidak satu pun korban yang bisa melihat identitas kapal kargo yang menabrak mereka, karena gelap. "Mereka mengalami luka-luka akibat digigit ikan, dan cumi-cumi," tuturnya.

Untuk mencari identitas kapal kargo yang menabrak, Hero akan melakukan koordinasi dengan Administrasi Pelabuhan (Adpel) Tanjung Priok. "Kami juga akan berkoordinasi dengan jajaran kepolisian di wilayah terjadinya kecelakaan tersebut," ujar Hero. Demikian catatan online Ikut Ngeblog tentang Tim pencari.

Kamis, 20 Januari 2011

Anak muda Indonesia

Anak muda Indonesia sekarang ini kurang memiliki kebanggaan terhadap bangsanya. Mereka kurang peduli terhadap sejarah. Padahal, tanpa memahami sejarah, anak muda akan sulit memaknai perjuangan dan jati diri bangsanya.

Demikian kritik Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang disampaikannya dalam kuliah umum di hadapan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan-Abdi Negara (STIP-AN), Jakarta, Kamis (20/1/2011). "Saya selalu dibilang kolot sama anak-anak muda karena masih mengingat dan mempertahankan sejarah. Tapi, apakah mereka masih ingat jati diri bangsa ini waktu diperjuangkan agar merdeka dari penjajahan. Kita semua harusnya tahu sejarah agar kita bisa mengetahui apa yang mau dilakukan untuk bangsa kita," kata Megawati.

Ia berpendapat, anak muda Indonesia saat ini kurang memupuk rasa kebanggaan terhadap bangsa dan lebih mementingkan modernisasi tanpa melihat masa lalu dan sejarah perjuangan Indonesia yang dengan keras membebaskan diri dari penjajahan.

"Jati diri bangsa kita mulai luntur tanpa kita tahu siapa kita sebenarnya. Kita ini besarnya sama dengan Amerika dan negara-negara lain, tapi anak muda sekarang tidak memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Katanya, masa lalu jadi whatever. Menurut saya, itu tidak benar. Mereka hanya memikirkan modernisasi, padahal modernisasi tidak datang dari mesin, tapi dari otak dan perasaan yang mesti menjadi satu untuk bangsa juga," kata Megawati.

Megawati dalam kuliah umumnya juga menekankan pentingnya anak muda dan rakyat Indonesia menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar negara. Kritik ini disampaikan agar anak muda Indonesia termasuk mahasiswa-mahasiswi STIP-AN, yang suatu saat nanti akan menjadi pemimpin bangsa, selalu mengedepankan jati diri bangsa dan Pancasila. Demikian catatan online Ikut Ngeblog tentang Anak muda Indonesia.

Cirus Sinaga

Jaksa peneliti Cirus Sinaga hingga kini belum juga ditetapkan sebagai tersangka, baik dalam kasus mafia peradilan dengan salah satu terdakwa Gayus H Tambunan maupun dalam kasus dugaan pemalsuan rencana tuntutan Gayus H Tambunan untuk perkara yang sama.

Padahal, nama Cirus Sinaga disebut-sebut Gayus sebagai salah satu penerima suap dalam perkaranya di Pengadilan Negeri Tangerang. Cirus juga disebut Gayus sebagai penyedia dua berkas rencana tuntutan (rentut) yang dibeli Gayus senilai 50.000 dollar AS melalui mantan pengacaranya, Haposan Hutagalung.

Atas perkara dugaan pemalsuan rentut, Kejaksaan Agung telah mengeluarkan Surat Perintah Dimulainya Penyelidikan (SPDP) terhadap Cirus Sinaga sebagai terlapor November tahun lalu. Namun, hingga kini sikap Polri terhadap status Cirus tampak berubah-ubah.

Kepala Bareskrim Polri Komjen Ito Sumardi pernah menetapkannya sebagai tersangka. Namun, ketika diperiksa Polri minggu lalu, status Cirus dikatakan masih sebagai saksi. Pihak kepolisian selama ini selalu berkelit bahwa belum ditemukan bukti yang cukup untuk menjerat Cirus. Namun, hari ini, Kamis (20/1/2011), Komjen Ito Sumardi mengatakan bahwa bukti yang dikumpulkan terkait keterlibatan Cirus Sinaga sudah cukup.

"Tentu kami harus kumpulkan bukti dulu. Karena bukti sekarang sudah ada dan cukup. Yah, tunggulah. Dalam waktu dekat, tentunya bisa melihat sejauh mana yang sudah dilakukan Polri," katanya seusai rapat pimpinan Polri di Jakarta.

Namun, ketika ditanya mengapa Cirus tidak juga ditetapkan sebagai tersangka, Ito tidak memberikan jawaban yang pasti. Dia hanya menjawab bahwa hal tersebut mungkin terjadi. "Yah, bisa saja," katanya.

Kendati demikian, secara tersirat Ito mengakui adanya kendala teknis dalam penyelidikan terkait Cirus. Atas kendala teknis tersebut, kata Ito, Presiden mengeluarkan 12 instruksinya untuk memotong birokrasi yang membelit di antara institusi kejaksaan dan Polri.

"Jadi terbentuklah yang namanya joint investigation team, tim investigasi gabungan, sehingga tidak ada lagi birokrasi harus minta izin ke instansi ini, itu, karena semua terlibat," tutur Ito.

Pihak kepolisian pun membantah tudingan Gayus yang mengatakan bahwa Polri tidak berani mengungkap kasus Cirus. "Kita buktikan saja. Jangan katanya dia. Kita buktikan bawa Polri bekerja secara profesional dan proporsional, tidak menutup-nutupi," kata Ito.

Bukti faks

Secara terpisah, Direktur I Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Agung Sabar Santosa mengatakan, kesulitan menetapkan Cirus sebagai tersangka adalah dalam mencari alat bukti. Pihak kepolisian masih berupaya mencari runtutan faksimile yang menjadi media bocornya rentut Gayus tersebut. "Belum, belum, kami belum menemukan," katanya.

Diduga, rencana tuntutan Gayus tersebut dibocorkan melalui faksimile. Demikian catatan online Ikut Ngeblog tentang Cirus Sinaga.

Satuan Tugas

Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum selayaknya dipertahankan dan didukung, bukan dibubarkan. Sebab, Satgas selama ini membantu upaya percepatan pemberantasan mafia hukum dengan berkoordinasi dan bekerja sama dengan lembaga-lembaga penegak hukum, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Badan Pemeriksa Keuangan, kejaksaan, kepolisian, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, dan sebagainya.

"Oleh sebab itu, Satgas harus didukung karena semangatnya memberantas korupsi," kata Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha kepada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (20/1/2011). Ia mengatakan, hal ini terkait dengan desakan sejumlah pihak yang meminta Satgas dibubaran menyusul tudingan Gayus kepada Satgas.

Julian menyatakan, sejumlah tuduhan Gayus kepada Satgas perlu pembuktian lebih lanjut. Terlebih Satgas telah memberikan klarifikasi atas apa yang dituduhkan Gayus. Presiden, kata Julian, meminta tuduhan-tuduhan Gayus ditindaklanjuti.

"Presiden mengatakan, kebenaran yang sebenar-benarnya dan fakta yang benar-benar terjadi itu harus dibuktikan, diungkapkan, karena kebenaran di atas segalanya. Dan, hukum tidak pandang bulu dan tidak boleh ada perbedaan dalam kategori apa pun," katanya.

Sebelumnya, anggota Komisi III DPR, Nudirman Munir, mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera membubarkan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum pascapernyataan Gayus Tambunan tentang dugaan rekayasa politisasi kasusnya oleh sejumlah anggota Satgas.

"Satgas sudah salah dalam bermain. Topeng-topeng yang mau dia tutupin ternyata terbuka lebar. Kalaupun Satgas mau tetap ada, ganti orangnya. Kalau enggak, bubarkan. Penegak hukum yang ada saja yang diperkuat," katanya di Gedung DPR, Kamis.

Desakan untuk membubarkan Satgas juga disampaikan anggota Komisi III, Bambang Soesatyo, yang juga berasal dari Fraksi Golkar. "Satgas dalam posisi yang tidak benar. Jadi, bubarkan saja," ungkapnya. Demikian catatan online Ikut Ngeblog tentang Satuan Tugas.

Jumat, 07 Januari 2011

Kementerian Hukum dan HAM

Kementerian Hukum dan HAM akhirnya juga menonaktifkan Kepala Subseksi Registrasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bojongeoro, Jawa Timur.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur, Jumat (7/1/2011), menjelaskan, sementara tugas Atmari dikerjakan pegawai yang lain. Atmari dinonaktifkan sampai semua persoalan terkait penukaran napi Kasiem dengan Karni jelas.

Tim investigasi internal Kanwil Depkumham akan melaporkan semua temuan pemeriksaan internal ke pimpinan. "Kalau nanti dinilai terlibat bisa jadi dikenai sanksi tergantung bobot pelanggaran. Jika ringan dikenai sanksi administrasi, jika berat bisa diberhentikan dari PNS," katanya.

Atmari enggan berkomentar. Atmari telah menjalani pemeriksaan dari Kanwil Kemenkumham, kepolisian, Satgas Pemberantasan Mafia hukum, hingga Inspektorat Jenderal Kemenkumham. Demikian catatan online Ikut Ngeblog tentang Kementerian Hukum dan HAM.

Rabu, 05 Januari 2011

Denny Indrayana

Sekretaris Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana menduga, kepergian terdakwa kasus korupsi pajak Gayus HP Tambunan ke Singapura, Kuala Lumpur, Malaysia, dan Makau, China, pada September 2010, tak lepas dari upaya menutup usahanya yang berkaitan dengan mafia pajak dan mafia peradilan. "Ini terkait dengan penyelamatan aset yang dia punya," kata Denny kepada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (5/1/2011).

Ia menekankan, dugaannya memerlukan bukti-bukti dan penyelidikan lebih lanjut. Lantas, apa dasar dugaan tersebut? Denny tidak menjawabnya secara lugas. "Hukum itu logic, rasional," katanya singkat tanpa penjelasan.

Sementara itu, hampir dipastikan sosok Sony Laksono adalah Gayus Tambunan. Hal ini didasarkan pada paspor yang dimiliki Kementerian Hukum dan HAM dan manifes penerbangan Indonesia AirAsia. "Berdasarkan manifes AirAsia, Devina memang duduk dekat Gayus," kata Denny.

Terlebih, anggota Komisi X DPR, Roy Suryo, yang juga pakar telematika, memastikan bahwa foto yang terdapat di paspor Sony Laksono identik dengan foto mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak golongan IIIA tersebut. Demikian catatan online Ikut Ngeblog tentang Denny Indrayana.