Jumat, 29 Juni 2012

Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Nachrowi Ramli

Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Nachrowi Ramli, mengawali kampanye di Jalan Kampung Bugis Nomor 17 RT 004 /RW 003 Cempaka Baru, Jakarta Pusat, Jumat 29 Juni 2012, dengan melayat. Pasalnya, salah satu warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi kampanye baru saja meninggal. Maka, sebelum berorasi di hadapan ratusan warga dan organisasi masyarakat yang hadir dalam kampanye, Nara melayat ke rumah Ketua RT 004/003 Kemayoran.

Di rumah Ketua RT itulah almarhumah Tati Hartati masih disemayamkan saat Nara berkampanye. “Mari kita kirim doa Al Fatihah untuk almarhumah Hartati binti Arin agar amal ibadahnya diterima di sisi-Nya,” ujar Nara di atas panggung kampanye.

Satu karangan bunga duka cita dari pasangan cagub-cawagub DKI Foke-Nara juga tampak terpasang di depan rumah Ketua RT tempat almarhumah Tati disemayamkan. Nara sempat berbincang dengan anak almarhumah Tati.

“Ntar kalau ade ape-ape, ente hubungi ane aje, karena kita sama-sama anak yatim. Saya juga ngerasain bagaimana jadi anak yatim,” kata Nara kepada anak almarhumah.

Ia mengaku sudah memberi santunan kepada keluarga yang berduka. “Menyantuni anak yatim itu wajib hukumnya. Dari kecil saya diajarkan seperti itu,” ucap Ketua Dewan Pimpinan Daerah Demokrat DKI Jakarta itu.

Nara kemudian melanjutkan kampanyenya. Nara bahkan sempat mengucapkan yel-yel menang satu putaran melalui mikrofon. “Program-program yang sudah dilaksanakan Foke dan pemerintahan yang lalu, yang grand design dan konsepnya sudah jelas, teruji, dan dianalisa baik ini akan kami lanjutkan,” kata Nara.

Siswandi, keluarga almarhumah Tati, yang juga Ketua RT setempat, mengatakan kemarin pihaknya sudah melapor ke panitia kampanye bahwa ada keluarga yang meninggal di lokasi kampanye Nara.

“Ini bukan kemauan kita, tapi sudah diatur sama yang di atas. Kemudian panitia bilang silakan dilanjut kampanye, tapi aturan yang harusnya ada musik dan lainnya akhirnya ditunda,” kata dia.

Malam saat almarhumah Tati meninggal, kata Siswandi, tenda pelayat sudah terpasang. “Panggung juga sudah tertata. Kami tidak apa-apa ada kampanye, yang penting sama-sama mengerti,” tuturnya.

Dame Partomoan Simatupang, pengurus Forum Bersama Jakarta Kecamatan Kemayoran, mengucapkan permintaan maaf kepada keluarga yang berduka cita atas pelaksanaan kampanye itu.

“Kami atas nama keluarga besar Forum Bersama Jakarta minta maaf sebesar-besarnya. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT, dan semoga di antara kita betul-betul clear. Memang peristiwa ini tidak kita duga. Padahal semalam sampai jam 3 tidak ada apa-apa. Kami kaget,” papar Dame.

Menurutnya, pihak panitia kampanye juga sudah meminta izin pada pengurus RT setempat. “Dia bilang, siapa yang tahu bakal ada peristiwa ini [orang meninggal]. Kami sudah saling ngobrol dan Alhamdulillah juga sudah saling mengerti,” ujar dia.

Kamis, 14 Juni 2012

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Syarief Hasan

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Syarief Hasan meminta masyarakat tidak mencap Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum sebagai koruptor sebelum KPK menuntaskan kasus-kasus yang diduga melibatkan kader-kader Demokrat, termasuk Anas.

“Asas praduga tak bersalah perlu dijunjung tinggi. Kasihan Partai Demokrat, kasihan juga Anas jadi begini. Padahal dia pun belum dipanggil sebagai saksi. Saya minta masyarakat dan pers seimbang memandangnya,” ujar Syarief dalam acara Demokrat di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis 14 Juni 2012.

Menteri Koperasi itu menyatakan, sanksi sosial yang diterima Demokrat dan Anas dari berbagai dugaan kasus yang ditimpakan pada mereka sangat besar. Oleh karena itu Syarief meminta KPK segera mengusut dan merampungkan penyelidikan atas kasus yang membelit kader Demokrat.

“Saya mohon kerja KPK bisa dipercepat untuk meng-clear-kan masalah ini karena kami dibelenggu oleh persoalan ini,” kata Syarief. Ada atau tidak ada indikasi korupsi, ujarnya, sampaikan apa adanya kepada masyarakat. “Jangan menggantung seperti ini sehingga akhirnya timbul persepsi tertentu di masyarakat,” imbuhnya.

Nama Anas memang disebut-sebut dalam kasus dugaan korupsi proyek pusat olahraga Hambalang. Anas sendiri sempat menyatakan dirinya menjadi korban pengadilan opini publik. “Ini sangat tidak adil. Padahal tidak ada keputusan pengadilan mengenai itu,” kata dia beberapa waktu lalu.