Minggu, 14 November 2010

Brother Industries Limited

Baru setahun Brother Industries Limited memasuki pasar Indonesia dengan mengusung produk printernya. Sebelumnya, perusahaan tersebut dikenal khalayak sebagai produsen mesin jahit asal Nagoya, Jepang. Adalah Kanekichi Yasui yang mendirikan perusahaan tersebut pada 1908 dengan nama Yasui Sewing Machine Co.

Seiring dengan perjalanan waktu hingga kini, sebagaimana Direktur PT Brother International Sales Indonesia Yuichi Suzuki menerangkan pada Jumat (5/11/2010) di gelaran Indocomtech 2010, perusahaan tersebut mengembangkan lini produksi mulai dari printer label, printer, printer multifungsi , mesin perkakas, mesin jahit, mesin tik, dan komputer elektronik.
Khusus untuk Indonesia, kata Sales and Marketing Manager PT Brother International Sales Indonesia Deny Santosa, pihaknya mesti berhadapan dengan kenyataan kalau mayoritas konsumen Indonesia amat menyukai produk dengan harga murah. “Di bidang printer misalnya, konsumen memang banyak yang masih mengincar printer murah serta harga tinta murah,” aku pria berkacamata ini.

Kenyataan ini, lanjut Deny, bertentangan dengan misi yang menjadi andalan Brother. “Makin hari, printer kami harus makin canggih,” katanya. Terhadap strategi Brother tersebut, konsumen, memang cenderung berpikir kalau hal yang makin canggih, lengkap, dan sebagainya amat terkait dengan harga yang acap lebih tinggi. “Pada bagian ini memang, kami lebih banyak memberikan edukasi kepada masyarakat kalau produk kami memiliki fitur yang makin lengkap dengan harga relatif sama,” terang Deny .

Demi menjadi pelaku pasar printer yang andal di Tanah Air, Brother membidik pameran sebagai salah satu sarana penting mengedukasi masyarakat. “Setahun kami menargetkan di tiga pameran besar komputer yakni FKI (Festival Komputer Indonesia), Indocomtech, dan Mega Bazaar,” ujar Deny.

Selain ajang tersebut, Brother juga memanfaatkan strategi menyasar konsumen usia muda dengan pameran di kampus-kampus. “Konsumen kelas ini memang lebih banyak mengetahui soal komputer,” imbuhnya.

Tujuh
Masih menurut Deny, dalam kesempatan Indocomtech sekarang, pihaknya meluncurkan tujuh model baru lini printer inkjet multifungsi berwarna yakni DCP-J125, DCP-J315W, DCP-J715W, MFC-J220, MFC-J265W, MFC-J415W dan MFC-J615W. Banderolnya di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per unit.
Pada lini tersebut, kemudian, Brother meningkatkan fitur-fitur seperti interior design. “Tampilan printer inkjet Brother kini cenderung berwarna hitam,” kata Deny Santosa.
Selain itu, kualitas layar printer berkembang menjadi 1,9 inchi dengan kecepatan hingga 35 ppm. “Untuk printer high-end, layar kami kualitasnya hingga 3,3 inchi,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Deny menambahkan, Brother mengusung teknologi printer nirkabel yang memungkinkan pengguna bisa mencetak dari ponsel. Sebaliknya, printer juga bisa memindai ke telepon genggam.

Pasar printer inkjet di Nusantara menurut data dari Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkindo) berada di kisaran 2,2 juta unit hingga akhir 2010. Brother yang belum berencana membangun pabrik di Indonesia dalam waktu dekat memiliki klaim menjadi tiga besar di ASEAN, kata Yuichi Suzuki. “Penguasaan pasar di ASEAN mencapai 10 persen,” tutur Suzuki.
Untuk kawasan pasar ASEAN, Brother mengandalkan pabrik di China, Vietnam, dan Malaysia. Sementara, untuk pendistribusian produk di Indonesia, Brother bekerja sama dengan PT Asaba. Demikian catatan online Ikut Ngeblog tentang Brother Industries Limited.